Senin, 16 April 2018

PEMBANGUNAN RUMAH TRADISIONAL PETANI BALI

Setelah bangunan utama Museum Subak Mascetti selesai dikerjakan, maka dilanjutkan dengan pekerjaan bangunan penunjang museum yaitu bangunan Rumah Tradisional Petani Bali, sebagaimana yang tercantum pada rencana master plan awal. Pembangunan Rumah Tradisonal Petani Bali pada area  Museum Subak Mascetti dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pengetahuan secara komprehensif/menyeluruh kepada pengunjung museum tentang kehidupan masyarakat petani tradisonal Bali pada suatu rumah tradisional Bali yang menjadi ciri khas kehidupan sosial agraris masyarakat Bali.













Senin, 03 April 2017

ANALISIS PEMBANGUNAN MUSEUM SUBAK KABUPATEN GIANYAR

ANALISIS PEMBANGUNAN MUSEUM SUBAK KABUPATEN GIANYAR

1. Analisis Aspek Legal Formal


Semenjak awal kemerdekaan, pemerintah telah menempatkan museum sebagai salah satu institusi penting dalam pembangunan kebudayaan bangsa. Museum didirikan adalah untuk kepentingan pelestarian warisan budaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan bangsa, dan juga sebagai sarana pendidikan nonformal, oleh karena itu pemerintah menganggap bahwa museum itu menjadi urusan yang perlu ditangani pembinaan, pengarahan, dan pengembangannya dalam rangka pelaksanaan kebijakan politik, sosial dan ekonomi di bidang kebudayaan. Oleh karena itu, dari museum-museum di Indonesia diharapkan dapat terlaksana kegiatan fungsional yang khas bagi museum sebagai lembaga social cultural edukatif, yakni sebagai suaka peninggalan sejarah perkembangan alam, manusia dan kebudayaan, sebagai pusat dokumentasi dan informasi, sebagai pusat studi dan rekreasi, yang melayani kepentingan-kepentingan lingkungan sosial budayanya bagi usaha-usaha pencerdasan kehidupan bangsa dalam menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.


Tiga landasan kebijakan permuseuman di Indonesia yaitu:
a.     Landasan Ideal
Landasan ideal permuseuman Indonesia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari landasan ideal pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional, yaitu Pancasila.
b.  Landasan Konstitutional
a)  Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31:
(1)   Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran.
(2)   Pemerintahmengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur oleh undang-undang.
b)  Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32:
Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Ini mengandung arti seperti tersebut dalam penjelasan pasalnya, yaitu “ Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa.Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkanatau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

c)  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Pasal 18 (2):
Museum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan, atau struktur yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya atau yang bukan cagar budaya, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.
Dalam penjelasan disebutkan, kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus dilestarikan guna memperkukuh jati diri bangsa, mempertinggi harkat dan martabat bangsa, serta memperkuat ikatan rasa kesatuan dan persatuan bagi terwujudnya cita-cita bangsa pada masa depan.Kebudayaan Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur harus dilestarikan guna memperkuatpengamalan Pancasila, meningkatkan kualitas hidup, memperkuat kepribadian bangsa dan kebanggaan nasional, memperkukuh persatuan bangga, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai arah kehidupan bangsa.

Landasan legal formal pelestarian Subak adalah:
a.    Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
b.    Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
c.    Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
d.    Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai
e.    Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi
f.     Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat, dan Lembaga Adat di Daerah.
g.    Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2012 tentang Subak
h.    Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No. 9 Tahun 2013 tentang Subak.

 2. Analisis Aspek Budaya


Kebudayaan Indonesia sangat kaya dengan beraneka ragam corak budaya daerah atau budaya lokal yang memiliki ciri khas sesuai dengan daerahnya masing-masing.  Demikianlah Bali memiliki potensi budaya lokal yang dijiwai oleh agama Hindu yang masih sangat kuat berpegang pada adat dan tradisi. Kebudayaan daerah Bali seperti halnya daerah lainnya di Indonesia dapat memperkaya kebudayaan Nasional Indonesia dalam rangka mengembangkan jatidiri,serta memupuk rasa integritas bangsa, membina kepribadian dan rasa kebangsaan nasional Indonesia.
Kebudayaan bukanlah hal yang statis, tetapi senantiasa berkembang dinamis sebagai akibat adanya interaksi antara manusia dengan alam lingkungannya. Perkembangan kebudayaan juga didorong oleh faktor intern berupa perubahan pola-pikir masyarakat yang cenderung meingininkan kehidupan  lebih maju, lebih baik dan lebih modern. Sedangkan faktor extern adalah dengan adanya arus globalisasi serta pesatnya kemajuan teknologi mendorong percepatan terjadinya akulturasi. Masyarakat harus selektif dalam menyerap masuknya budaya luar agar perkembangan budaya tetap berpegang pada nilai-nilai luhur budaya bangsa. Dalam hal ini  masyarakat memegang peranan yang sangat penting sebagai pendukung kebudayaan. Ketika masyarakat menganggap suatu tradisi atau budaya tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat, maka tradisi atau budaya tersebut lambat laun akan ditinggalkan. Ditengah-tengah perubahan terasebut masyarakat seharusnya tetap memahami nilai-nilai luhur budaya yang ada dan meningkatkan apresiasi secara baik dan benar.
Disinilah peranan Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar untuk dapat memfasilitasi peningkatan pemahaman masyarakat terhadap nilai luhur budaya daerahdan meningkastkan apresiasi budaya masyarakat sehingga memiliki ketahanan budaya dalam membendung masuknya budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Pembangunan Museum Subak Kabupaten Gianyar diharapkan akan dapat berperan dalam  perkembangan kebudayaan di Kabupaten Gianyar khususnya dan di Bali pada umumnya.
Warisan budaya yang ada pada Subak di Bali tidak hanya menyangkut pengaturan irigasi, namun juga ada nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia. Nilai-nilai tersebut adalah nilai harmoni dan kebersamaan yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana, yakni keserasian dan keharmonisan hubunganantara sesama manusia, manusia dengan lingkungan alamnya, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Pada Sidang ke-36 di Tavritcheski Palace, St. Petersburg, Rusia,tanggal 29 Juni 2012, sebanyak 21 Negara anggota Komite Warisan Budaya Dunia UNESCO, secara aklamasi menetapkan Subak sebagai warisan budaya dunia. Peristiwa tersebut merupakan hal yang sangat membanggakan bagi Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Bali, karena mampu memberikan dan mewariskan “sesuatu” kepada dunia dan umat manusia yaitu suatu budaya masyarakat Bali yang khas, spesifik, dan asli, yang terkenal dengan sebutan Sistem Irigasi Subak. UNESCO mengakui subak sebagai warisan budaya dunia, karena subak adalah sesuatu yang spesifik, merupakan budaya Bali yang asli, dan mampu berfungsi sebagai penyangga kebudayaan Bali.Dalam bahasa yang lebih umum, disebutkan bahwa subak adalah organisasi yang bersifat sosio agraris religius. Subak tidak hanya berfungsi sebagai organisasi sosial yang mengurusi masalah pertanian, namun juga melaksanakan aktivitas keagamaan. Hal inilah yang merupakan kekhasan subak. Tampaknya, tidak ada organisasi petani di dunia yang juga melakukan aktivitas keagamaan, seperti halnya subak di Bali. Oleh karena itulah, subak disebut juga sebagai penyangga kebudayaan Bali (Windia, 2006)
Kehadiran Museum Subak Kabupaten Gianyar sangat diperlukan sebagai wahana untuk membangkitkan kebanggan masyarakat terhadap budayanya, dalam upaya membendung nilai-nilai arus globalisasi yang pragmatik, serta bermanfaat sebagai wahana untuk melakukan perenungan tentang nilai-nilai kemanusiaan, sejarah dan kebudayaan.

  

3.   Analisis Aspek Sosial


Sampai saat ini, apresiasi masyarakat terhadap museum masih sangat rendah. Sebagian masyarakat menganggap museum hanya sebagai tempat memajang benda-benda kuna atau benda-benda antik. Hal ini terbukti dari kecilnya jumlah pengunjung yang mendatangi museum baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum. Pada hal dalam era globalisasi  sekarang ini masyarakat sangat membutuhkan bahkan haus dengan informasi. Dalam kondisi seperti ini masyarakat tidak dapat sepenuhnya disalahkan tetapi museum seharusnya juga berbenah diri agar masyarakat semakin tertarik untuk datang ke museum. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pengunjung yang pasif tetapi juga merupakan potensi dalam rangka ikut berperan dalam pengembangan museum. Terjadilah interaksi antara masyarakat pendukung kebudayaan dengan museum sebagai pusat pengembangan kebudayaan. Benda warisan budaya sebagai koleksi museum bukanlah benda mati tanpa makna, tetapi sarat dengan norma dan nilai. Apresiasi masyarakat akan meningkat sejalan dengan peningkatan pemahaman terhadap norma, etika dan moral serta nilai sosial, budaya dan agama. 
Dalam perkembangan sosial masyarakat maka pemahaman terhadap norma serta nilai juga ikut berkembang dinamis dan beradaptasi secara positif dengan perkembangan masyarakat pada umumnya. Adakalanya perkembangan tersebut berdampak negatif ketika terjadi pergeseran nilai dan hilangnya nilai autentik dari warisan budaya. Disinilah peranan museum sebagai pusat informasi dan pusat edukasi sangat diperlukan. Oleh karena itu Museum Subak Kabupaten Gianyar harus dapat mengemas program dan kegiatannya sedemikian rupa agar informatif, edukatif dan juga rekreatif.       


4.   Analisis Aspek Lokasi


Dalam Pedoman Pendirian Museum yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1988 disebutkan persyaratan Lokasi Museum adalah sebagai berikut:
a.    Lokasi Museum harus strategis yakni mudah dijangkau masyarakat umum. Pengertian strategis dalam hal ini tidak berarti harus terletak di pusat kota melainkan yang terpenting adalah adanya kemudahan akses menuju lokasi museum.
b.    Lokasi museum harus sehat, artinya tidak terletak pada daerah yang pencemaran udaranya tinggi, seperti misalnya di kawasan industri atau daerah padat transportasi.
c.    Lokasi harus terletak pada tanah yang baik, tidak berlumpur (rawa-rawa atau kondisi lahan ekstrim lainnya).
d.    Elemen-elemen iklim pada lokasi museum memenuhi persyaratan antara lain kelembaban berkisar antara 55% sampai dengan 65 %. Persyaratan ini sangat penting bagi keterawatan koleksi museum.

Apabila ditinjau dari persyaratan umum  lokasi museum, maka lokasi Kawasan Masceti sangat strategis karena mudah dijangkau dan terletak pada zone pengembangan pariwisata budaya. Kondisi tanah di lokasi Kawasan Masceti juga memenuhi persyaratan daya dukung tanah (bukan rawa-rawa) dengan topografi yang relatif landai. Lingkungan sekitar Kawasan Masceti juga terbebas dari polusi udara karena tidak ada kawasan industri disekitarnya. Ditinjau dari kondisi elemen iklim seperti kelembaban udara, lokasi Kawasan Mascetijuga mendukung dengan kelembaban udara sekitar 65%.

Selain persyaratan lokasi seperti yang telah diuraikan diatas, lokasi museum juga harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gianyar. BerdasarkanPeraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 16 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Gianyar Tahun 2012 – 2032, Kawasan Masceti termasuk dalam Kawasan Pariwisata Lebih. Pembangunan Museum Subak Kabupaten Gianyar di Kawasan Masceti diharapkan dapat memicu pengembangan pariwisata budaya berbasis pendidikan tentang Subak sertamemberdayakan lingkungan fisik kawasan Masceti yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Gianyar, sebagai bagian dari upaya penyeimbangan dan pemerataan pembangunan antara wilayah Gianyar utara dan selatan, melalui pengembangan wisata spiritual yang terpadu dengan wisata alam dan wisata budaya.

Secara administratif, Kawasan Masceti berada pada wilayah Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Kawasan Masceti memiliki luas sekitar 4 hektar. Lahan Kawasan Masceti ini dimiliki oleh Pura Masceti dan dikelola oleh Panitia Pura Masceti. Yang menjadi Pengempon (penanggungjawab) Pura Masceti adalah kumpulan lembaga Subak yang tergabung dalam Pesedahan Yeh Pekerisan Teben, berada pada wilayah administratif Desa Medahan dan Desa Keramas.
Area yang diperuntukan untuk bangunan Museum Subak memiliki luas sekitar 6.000 m2. Area tersebutdirencanakan untuk bangunan utama Museum Subak, bangunan penunjang dan area landscape pendukung bangunan Museum Subak, sementara untuk lahan parkir menggunakan area Parkir yang berada di sekitar Pura Masceti. Posisi site Museum Subak dapat dilihat pada foto udara kawasan Mascetipada halaman dibawah ini.Batas-batas area site yang diplot untuk Museum Subak adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara          : Area Parkir Pura Masceti
Sebelah Timur         : Area Parkir Pura Masceti
Sebelah Selatan        : Jalur Pedestrian Pura Masceti
Sebelah barat          : Jalan Pantai Masceti
Kontur tanah Kawasan Masceti secara umum mengalami penurunan ke arah pantai. Jenis tanah pada kawasan ini adalah jenis tanah regosol coklat kelabu, serta memiliki ordo tanah inceptisol atau sering disebut tanah liat berpasir.Temperatur  udara pada kawaan Masceti berkisar antara 22 - 340C, dengan kelembapan udara sekitar 65%-80%. Curah hujan rata-rata berkisar antara 0-1000 mm/tahun. Kecepatan angin rata-rata antara 3 – 8,2 km/jam dan evapotranspirasi tahunan antara 1700-1780 mm. Kawasan Masceti memiliki jenis air permukaan yang berupa sungai kecil. Sungai yang mengalir sepanjang tahun pada kawasan ini adalah percabangan hilir dari Sungai Pekerisan. Air sungai tersebut dimanfaatkan masyarakat Subak untuk kepentingan irigasi persawahan.
Pantai Masceti memiliki kondisi arus laut dengan kecepatan rata-rata 40 cm/detik. Pantai Masceti memiliki pola pasang surut yang mirip dengan dengan Pantai Sanur dan Nusa Dua, yaitu pola diurnal, dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari. Air pasang tertinggi biasanya terjadi pada bulan November dan Desember. Untuk mangantisipasi abrasi, di sepanjang pesisir Pantai Masceti telah dibangun konstruksi senderan penahan abrasi dan jalur pedestrianoleh Kementerian Pekerjaan Umum RI.

5.   Analisis Aspek Pariwisata


Kawasan Masceti merupakan kawasan yang memiliki fungsi strategis yang perlu dijaga eksistensinya, dilestarikan dan dikembangkan, yaitu sebagai tempat melakukan kegiatan ritual agama Hindu, serta sebagai tempat pengembangan wisata alam dan spiritual dengan perpaduan panorama pantai dengan area persawahan yang indah.
Dalam kaitannya dengan kegiatan ritual keagamaan, Kawasan Pantai Masceti sangat sering dijadikan tempat pelaksanaan upacara keagamaan oleh umat Hindu dari berbagai desa di Kabupaten Gianyar pada khususnya dan Bali pada umumnya. Dalam Kawasan Masceti terdapat Pura Masceti yang merupakan Pura Swagina (terkait dengan profesi pertanian yang diorganisir oleh lembaga Subak).
Kawasan Pantai Masceti memiliki potensi pengembangan pariwisata yang unik dengan prospek yang cukup menjanjikan yaitu kombinasi antara wisata spiritual, wisata budaya, dan wisata alam/pantai yang disinergikan berdasarkan hirarki kegiatannya. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Gianyar tentang Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pariwisata Lebih tahun 2002-2012, beberapa kawasan pantai yang akan dikembangkan sebagai obyek wisata antara lain Pantai Biaung, Pantai Gumicik, Pantai Purnama, Pantai Saba, Pantai Masceti, Pantai Lebih dan Pantai Siyut. Proses Penataan Kawasan Pantai Masceti perlu dilanjutkan sehingga menjadi tempat yang representatif untuk mewadahi aktivitas wisata seperti yang telah disebutkan diatas. Kombinasi yang harmonis antara wisata budaya bernuansa spiritual dengan wisata alam/pantai diharapkan dapat menjaga eksistensi budaya lokal, memberikan peningkatan kualitas spiritual, sekaligus membuka kesempatan usaha pengembangan ekonomi kerakyatan bagi masyarakat lokal. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 3 Tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya, dimana pembangunan obyek dan daya tarik wisata dilakukan dengan memperhatikan kemampuan untuk mendorong peningkatan perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial budaya.
Pencapaian atau aksesabilitas untuk menuju ke kawasan Masceti cukup mudah dan lancar karena jarak pencapaian dari pusat-pusat kota tidak terlalu jauh dan jalur akses menuju kawasan juga cukup banyak. Ditinjau berdasarkan letak geografis dan pencapaian, kawasan Masceti berada pada posisi yang strategis yaitu terletak pada jalur kawasan pariwisata yang merupakan penghubung antara kawasan pariwisata Nusa Dua dan Kuta di Badung, Sanur di Denpasar dengan kawasan pariwisata Candidasa di Karangasem. Hal ini tentunya merupakan suatu potensi, dimana nantinya kawasan Masceti diharapkan dapat menjadi stop over(tempat wisata persinggahan) antara dua kawasan pariwisata tersebut.
Dengan adanya segenap potensi seperti yang telah diuraikan diatas, maka perlu dilakukan suatu usaha penataan Kawasan Masceti untuk meningkatkan kualitas lingkungan, fungsional dan estetika kawasan, salah satunya melalui Pembangunan Museum Subak Kabupaten Gianyar. Adanya Pantai Masceti dengan keindahan panorama alamnya, Pura Masceti sebagai bagian dari Pura Subak dengan nuansa religiusnya, dan Museum Subak sebagai wahana pelestarian budaya, merupakan perpaduan yang harmonis antara wisata alam, wisata spiritual dan wisata budaya, sesuai dengan tatanan hirarki kegiatannya.


KANTOR PENGELOLA MUSEUM SUBAK KAB. GIANYAR & PENATAAN PARKIR

LINK BERITA TERKAIT



TAHAP FINISHING MUSEUM SUBAK KABUPATEN GIANYAR













Minggu, 02 Oktober 2016

PERENCANAAN PEMBANGUNAN MUSEUM SUBAK KABUPATEN GIANYAR

1.1.   Latar Belakang

Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2012 tentang Subak, telah menguraikan secara jelas bahwa Subak merupakan organisasi tradisional dibidang tata guna air dan atau tata tanaman di tingkat usaha tani pada masyarakat adat di Bali yang bersifat sosio agraris, religius, ekonomis, yang secara historis terus tumbuh dan berkembang. Warisan budaya yang ada pada Subak di Bali tidak hanya menyangkut pengaturan irigasi, namun juga ada nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia.Nilai-nilai tersebut adalah nilai harmoni dan kebersamaan yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana, yakni keserasian dan keharmonisan hubunganantara sesama manusia, manusia dengan lingkungan alamnya, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Ditinjau dari sistem hirarki organisasi, Subak adalah organisasi petani pengelola air irigasi dalam suatu areal sawah tertentu, mendapatkan air dari suatu sumber tertentu, minimalmemiliki dan mengelola satu pura sebagai tempat persembahan (ritual keagamaan), dan bersifat otonom ke luar dan ke dalam organisasinya. Gabungan beberapa subak yang mendapat air irigasi dari satu sumber air, disebut dengan Subak Gede. Gabungan subak-subak dalam satu sungai atau lebih, disebut Subak Agung, tapi salah satu diantaranya harus dalam bentuk Subak Gede. Tidak ada hubungan struktural antara subak dengan desa, tetapi ada hubungan koordinasi. Wilayah subak bisa terdapat pada lebih dari satu desa, kecamatan, atau kabupaten (Windia,2006).
Pada Sidang  ke-36 di Tavritcheski Palace, St. Petersburg, Rusia,tanggal 29 Juni 2012, sebanyak 21 Negara anggota Komite Warisan Budaya Dunia UNESCO, secara aklamasi menetapkan Subak sebagai warisan budaya dunia.Peristiwa tersebut merupakan hal yang sangat membanggakan bagi Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Bali,karena mampu memberikan dan mewariskan “sesuatu” kepada dunia dan umat manusia yaitusuatu budaya masyarakat Bali yang khas, spesifik, dan asli, yang terkenal dengan sebutan Sistem Irigasi Subak. UNESCO mengakui subak sebagai warisan budaya dunia, karena subak adalah sesuatu yang spesifik, merupakan budaya Bali yang asli, dan mampu berfungsi sebagai penyangga kebudayaan Bali.Dalam bahasa yang lebih umum, disebutkan bahwa subak adalah organisasi yang bersifat sosio agraris religius. Subak tidak hanya berfungsi sebagai organisasi sosial yang mengurusi masalah pertanian, namun juga melaksanakan aktivitas keagamaan. Hal inilah yang merupakan kekhasan subak. Tampaknya, tidak ada organisasi petani di dunia yang juga melakukan aktivitas keagamaan, seperti halnya subak di Bali. Oleh karena itulah, subak disebut juga sebagai penyangga kebudayaan Bali. UNESCO juga menyebutkan subak sebagai implementator dari konsep Tri Hita Karana(Windia, 2006; Perda Subak, 2012; Proposal Usulan Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia, 2010).
Saat ini sistem subak di Bali menghadapi tantangan yang luar biasa, seirama dengan semakin terpinggirkannya sektor pertanian. Pendapatan petani relatif kecil, pajak PBB yang tinggi, harga input yang mahal, harga output yang rendah pada saat panen, air irigasi semakin langka,dan permasalahan lainnya. Sementara itu, petani mulai tergoda dengan harga lahan sawah yang tinggi. Tampaknya kaum investor tak segan-segan membeli kawasan sawah dengan nilai yang tinggi, asalkan lokasinya strategis untuk membangun bisnis. Oleh karenannya, berdasarkan data BPS tahun 2010, sawah di Bali berkurang lebih dari 1000 hektar per tahun (Suamba, 2012).
Kalau kawasan sawah berkurang secara signifikan, dan air irigasi semakin langka, maka hal ini adalah pertanda nyata bahwa eksistensi subak semakin terancam. Kalau subak mulai punah, maka nilai-nilai harmoni dan kebersamaan yang ada pada subak akan semakin lenyap. Lalu kemana kita harus mencari keteladanan yang bersumber dari kearifan lokal dari sistem subak?. Museum adalah salah satu wadah yang paling tepat untuk mengabadikan esensi nilai yang terkandung dalam sistem subak di Bali. Naisbitt dan Aburdene (1990) menyatakan bahwa di masa depan museum akan menjadi tempat rekreasi yang paling penting bagi umat manusia dalam rangka mengisi nurani manusia tentang nilai-nilai yang harus diteladani, dan juga untuk membangun kebanggaan insani. Di Negara-negara maju, telah mulai terjadi pergeseran masayarakat dalam berekreasi. Mereka sudah mulai banyak beralih dari menonton olah raga, lalu mulai mengunjungi museum.
Menurut ICOM (International Council of Museums), museum adalah suatu lembaga yang bersifat permanen dan terbuka untuk umum, yang melayani kebutuhan publik dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan rekreasi. Ditinjau dari aspek yuridis, Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya menyebutkan bahwa museum merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan, atau struktur yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya atau yang bukan cagar budaya, dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat.
Menurut Sutarga dalam Seraya (1984),museum berfungsi sebagai salah satu badan yang ikut membendung, mempertahankan, memelihara dan mengamankan hasil – hasil budaya masyarakat dari kehancuran atau kemusnahan sebagai akibat dari akulturasi dan pengaruh budaya luar.Museum menjadi alat bantu meningkatkan kehidupan rakyat di bidang kebudayaan (kesenian dan kerajinan). Masuknya hasil teknologi kerajinan rakyat, dan hasil kesenian di museum dapat merangsang atau memberi dorongan kepada masyarakat dalam memajukan kebudayaan yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks pengakuan UNESCO terhadap sistem subak sebagai warisan budaya dunia, keterpinggiran sektor pertanian/subak, dan dalam rangka mendorong masyarakat untuk mengunjungi museum sebagai sumber nilai tradisi, makadiperlukan adanya Museum Subak. Untuk wilayah Kabupaten Gianyar, Museum Subak ini rencananyaakan dibangun di Kawasan Masceti, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh. Hal ini didasarkan pada suatu realitas bahwa secara fungsional Pura Masceti tergolong sebagai Pura Swagina yang terkait dengan profesi pertanian yang didukung oleh anggota Subak sebagai penyangganya. Selain itu, rencana pendirian Museum Subak di Masceti juga mempertimbangkanaspirasi dari masyarakat Subak, potensi pengembangan wilayah dari segi alam dan budaya, serta rencana tata ruang Kabupaten Gianyar.
Museum Subak ini dirancang sebagai wahana atau pusat informasi tentang Subak. Selain itu, keberadaan Museum Subak juga diharapkan dapat memicu pengembangan pariwisata budaya dan wisata pendidikan bagi generasi muda, mendorong dilakukannya riset yang lebih mendalam tentang Subak dan merumuskan upaya transformasi Subak di era modern melalui penyerapan teknologi tanpa menghilangkan identitas sistem subaknya.

 

1.2.   Tujuan

Adapun tujuan pembangunan Museum Subak di Kawasan Masceti adalah sebagai berikut :
a.    Sebagai wahana pusat informasi tentang sistem subak yang merupakan salah satu sarana pelestarian kearifan budaya lokal dan upaya menjaga eksistensi nilai-nilai sistem subak, sebagai identitas sosial agraris masyarakat Bali.
b.    Mendukung eksistensi fungsional Pura Masceti sebagai Pura Swagina yang terkait dengan profesi pertanian, dimana anggota masyarakat Subak sebagai pengempon (penanggungjawabnya).
c.    Memicu pengembangan pariwisata budaya berbasis pendidikan tentang Subak di Kawasan Masceti, Kabupaten Gianyar.
d.    Mendorong dilakukannya riset dan upaya transformasi sistem subak di era modern, tanpa menghilangkan identitas sistem subak.
e.    Memperkaya dan memberdayakan lingkungan fisik kawasan Masceti yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Gianyar, sebagai bagian dari upaya penyeimbangan dan pemerataan pembangunan antara wilayah Gianyar utara dan selatan, melalui pengembangan wisata spiritual yang terpadu dengan wisata alam dan wisata budaya di kawasan Masceti.

1.3.   Manfaat

Adapun manfaat dari pembangunan Museum Subak tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Sebagai wahana untuk melestarikan nilai-nilai dan keteladanan yang ada pada sistem subak di Bali.
b.    Sebagai wahana untuk membangkitkan kebanggan masyarakat terhadap budayanya, dalam upaya membendung nilai-nilai arus globalisasi yang pragmatik.
c.    Sebagaiwahana untuk melakukan perenungan tentang nilai-nilai kemanusiaan, sejarah dan kebudayaan (terkait dengan perkembangan Subak di Bali).